Pengikut

Jumaat, 13 Mac 2015

Kisah Tauladan : Seorang Wanita Menjadi Pencetus Peningkatan Keiman Seorang Lelaki Beribadah Kepada Allah



gambar hiasan

Assalamualaikum

Acik sangat kagum bila membaca kisah seorang wanita yang menjadi pencetus semangat dan meningkatkan keimanan seorang lelaki untuk terus beribadah kepada Allah. 

Tersebutlah alkisah….
Nama sebenarnya adalah ‘Atikah binti Zaid ibn ‘Amru ibn Nufail al Qurasyiah al ‘Adawiyah. Beliau merupakan seorang wanita mukminah yang cukup terkenal dikalangan sahabiah dengan kefasihannya serta kemampuannya bersyair . Sifat-sifat ini telah diwarisinya dari ayahanda sendiri, iaitu Zaid ibn ‘Amr.
Dengan sifat-sifat kelembutan perasaan, ketajaman hati dan kesucian jiwa yang ada padanya, beliau telah mengahwini seorang sahabat dimana ayahnya juga merupakan sahabat Rasulullah s.a.w, iaitu Abdullah ibn Abu Bakar As-Siddiq r.a.
Memang tak boleh disangkal lagi, Atikah merupakan seorang wanita yang sangat cantik dan jelita. Sehinggakan kejelitaannya itu telah menyibukkan Abdullah ibn Abu Bakar dari urusan kehidupan dan perniagannya. Bukan itu saja, malahan kecantikannya juga telah menyibukkan suaminya untuk keluar berjihad. Hal ini menyebabkan Abu Bakar mendesak anaknya itu untuk menceraikan Atikah. Sehinggalah jatuh talak satu keatasnya.
Abdullah bin Abu Bakar tidak dapat mengendalikan jiwanya . Ia sangat bersedih ketika berpisah dgn isterinya. Tanda2-tanda kesedihan terpancar jelas diwajah dan badannya. Pada suatu hari, Abu Bakar mendengar anaknya berkata:

gambar hiasan
“Hai Atikah, aku tidak kan melupakanmu selama angin bertiup
Dan selama burung merpati masih bersuara
Hai ‘Atikah, saya tidak akan melupakanmu selama orang masih berhaji
Dan selama bintang-bintang yang bergantungan di langit bersinar
Hai ‘Atikah, hatiku tiap hari dan malam
Tergantung kpdmu apa-apa yang tersembunyi dalam jiwa
Kalau bukan kerana taqwa kpd Allah yg berhubungan dgn ayahku
Dan ketaatan kpdnya maka kita tidak akan berpisah
Ketika ayahnya mendengar bait-bait syair anaknya, ia sedar betapa cintanya Abdullah kpd Atikah. Akhirnya ia mengizinkan anaknya untuk kembali bersama dgn isterinya.
Abdullah telah menjumpai sinar kehidupannya kembali. Kemudian ia ikut bersama Rasulullah dalam perang Thaif. Dalam perang itu, beliau terkena luka panah dan lukanya semakin parah setelah 4 malam pemergian Rasulullah. Dan akhirnya Abdullah bin Abu Bakar pun syahid. Atikah berasa sangat sedih akan kehilangan suaminya yang tercinta itu. Ia meratapi pemergian itu dengan sedihnya dalam sebuah syairnya.

Kemudian Abu Bakar pun menyuruhnya untuk rujuk kembali. Atikah dan Abdullah pun belajar dari kesilapan lalu, supaya tidak meletakkan cinta antara mereka melebihi cinta kepada Allah. Tatkala mereka sudah rujuk, Abdullah menghadiahkan sebidang tanah (kebun) dengan syarat agar Atikah tidak menikah lagi dengan orang lain jika Abdullah telah meninggal.

Abdullah sendiri adalah sahabat yang paling berjasa dalam hijrah Rasulullah ke Madinah. Ia lah orang yg memberikan kabar tentang kaum musyrikin Mekah kepada nabi dan beliau juga akhirnya wafat dalam medan juang, syahid selepas Perang Tha'if, semoga Allah merahmatinya.

Banyak sahabat meminang Atikah tapi semua ditolaknya karena janjinya kepada Abdullah. Maka ketika Umar bin Al-Khattab melamarnya, Atikah menceritakan masalah kebun itu dan syarat dari Abdullah. Umar menyuruhnya agar meminta fatwa kepada Ali bin Abu Thalib.

Ali berkata : ”Kembalikan kebun itu kepada keluarga Abdullah, sesudah itu menikahlah lagi.”
 
Maka Atikah menikah dengan Umar. Umar Al-Khattab syahid ditikam seorang Majusi bernama Lu’lu’ ketika sholat. Setelah Umar meninggal dunia dan habis massa iddahnya, dia menikah lagi dengan Zubair Bin Awwam. Az-Zubair meninggal dunia, syahid setelah dibunuh secara zalim dalam Perang Jamal di Wadi siba’. Setelah itu, Atikah dilamar oleh Ali bin Abu Thalib. Kemudian Ali mengatakan : ”Siapakah yang menyukai mati syahid di masa mendatang, maka hendaklah di menikah dengan Atikah”karena memang semua suaminya meninggal dalam keadaan terbunuh. Atikah meminta Ali tidak berperang jika ingin menjadi suaminya. Akhirnya Ali pun urung dan digantikan oleh anaknya Husain. Saat itu, Atikah sudah berusia 50 tahun. Kemudian dia dinikahi Husain bin Ali, dan suaminya ini juga meninggal. Ketika Al-Husain terbunuh, Atikahlah yang pertama kali mengangkat pipinya dari tanah dan membersihkannya. Sesudah itu Atikah hidup menjanda.

Abdullah bin Umar berkata : “Barangsiapa yang menghendaki mati syahid hendaklah mereka menikah dengan Atikah”. Dan Atikah kemudian meninggal dunia pada sekitar tahun 40 hijriah.

Sungguh tak terbayang kecantikan akhlak dan jiwanya sehingga seorang Husain yang masih muda pun menikahinya. Namun, lagi-lagi Atikah diberi karunia Allah, karena Husain pun terbunuh dalam syahid.

Subhanallah, kisah Atikah, seorang muslimah shalihah yang dikaruniai Allah suami para syahid..
Betapa mulia Akhlaknya hingga Allah menghadiahkannya seindah itu..

Renungilah kisah srikandi ‘Atikah binti Zaid ini yang terkenal sebagai wanita yang ahli ibadah dan kuat akalnya, sebagai pedoman dan pengajaran dalam hidupmu!

Share This!


5 ulasan:

Sylarius Yusof berkata...

Peranan wanita terhadap lelaki amat besar. Mereka mampu membangunkan lelaki dan pada masa yang sama juga, mampu meruntuhkan lelaki.

paridah berkata...

Atikah wanita sempurna berakhlak terpuji n patut dicontohi.

Khir Khalid berkata...

Betul tu... wanita yg patut menjadi contoh buat semua... subhanallah...

Maria Firdz berkata...

nice story...

Cik Ash berkata...

Nice cRitA ni

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates
Related Posts with Thumbnails